Jumat, 15 Februari 2013

Jadwal Kuliahku Semester IV


KARTU RENCANA STUDI


Nama:HER AFRIYANDI
NIM:110404070
Program Studi:Teknik Sipil
Semester:Genap 2012/2013
Dosen PA:Ir., Muslim Tampubolon, M.Eng.

No.KelasMatakuliahSKSKeJadwal Kuliah
KodeNamaSnSlRbKmJmSbMg
1REG TS KLS ARTS 3240BANGUNAN AIR2108:00 - 09:40
2REG TS KLS ARTS 2226Struktur Beton Bertulang II3111:20 - 12:3514:00 - 15:40
3REG TS KLS ARTS 2227Struktur Baja I3214:00 - 15:1514:00 - 15:40
4REG TSRTS 1201PPRAKTIKUM BAHAN KOSTRUKSI1115:40 - 17:00
5REG TS KLS ARTS 1213PERANCANGAN JALAN REL2109:40 - 11:20
6REG TS KLS ARTS 2229Rekayasa Lingkungan2111:20 - 13:00
7REG TS KLS ARTS 2230Manajemen Proyek2114:00 - 15:40
8REG TS KLS ARTS 2225Perencanaan Drainase2109:40 - 11:20
9REG TSRTS 1211PPRAKTIKUM HIDRAULIKA1115:40 - 17:00
10REG TS KLS ARTS 2224Desain Pondasi I2109:40 - 11:20
11REG TS KLS CRTS 3242PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR2114:00 - 15:40
Total : 22 
IP Semester lalu: 2.90909
Maks SKS: 22 SKS



Semoga Allah Selalu memberikan Ilmunya padaku dan memudahkan jalanku untuk menuntut ilmunya,
 Amiiin :)

Hari jilbab Internasional


SELAMAT HARI  JILBAB INTERNASIONAL 
14 FEBRUARI 2013


Semoga Muslimah makin besar EKSISTENSINYA dalam perubahan dunia :)

Selasa, 08 Januari 2013

Acara Liburan Tahun 2012 Bersama Keluarga

Tanggal 31 Desember 2012, pukul 03;15 Wib kami berangkat  dari muara lembu menuju Sumatera Barat untuk bisa tahun baru di danau singkarak. di dalam mobil ada Mama, Papa, adekku Dani, Enjel, Aldo serta tanteku beserta anaknya, Joe sama Zendra. kami sampai di danau singkarak sekitar pukul 10;20 Wib, sambil nunggu pukul 00:00 Wib kami duduk bersama sekian banyak orang di tepi danau singkarak.

Melepas lelah sambil nunggu 00:00 Wib di tepi danau singkarak

Setelah pukul 00;00 Wib, perayaan tahun baru seperti tiup terompet, ngidupin mercun tidak ada lagi dan orang yang di tepi danau udah semakin berkurang, kami sekeluarga bergegas menuju rumah makan untuk melepas lelah sampai esok pagi, biar tenaga pulih kembali. 

Paginya 01 Januari 2013, planning kami hari itu ingin jalan-jalan ke pantai padang untuk makan pagi disana, tetapi di perjalanan terlihat suatu objek wisata danau kembar ( danau ate danau bawah ), kami urungkan niat untuk melangkah ke pantai padang. dalam perjalanan ke danau kembar, banyak sekali kebun teh yang kami jumpai, ni ada potonya loh, hehehe,,,,
 Aku Sekeluarga di Kebun Teh

Papa & Mama

Di danau Kembar (danau ate)

di danau kembar (danau bawah)

Tanteku bersama anaknya ( danau bawah )

Setelah makan dan berpoto ria di danau kembar kami menuju ke padang untuk shalat zhuhur, setelah shalat zhuhur kami bergerak menuju ke pariaman mau ke pantai gondoria, ke pantai padang kami delete dari daftar planning, karna sudah sering kesana (sok sering jalan ke sumbar, hehe ). kami di pantai gondaria tiba pukul 14:45 Wib, kami nyantai dulu di pantai gondaria sambil melepaskan penat dan menarik napas kembali sampai pukul 17:00 Wib. ini ada poto kami saat di pantai Gondaria, cekidooot :)

ciee, narsis kali lah gaya adek-adekku ini.

nikmatnya angin sepoi-sepoi di pantai gondaria

Setelah puas menikmati hembusan angin yang sejuk di pantai, kami bergegas menuju ke sungai sarik, tepatnya ke surau ongku jalalin, untuk bersilaturrahmi bersama guru, silaturrahmi ini kami tidak hanya satu keluarga saja, ada juga keluarga kami dari kampung untuk silaturrahmi ini. sambil menunggu keluarga yang lain datang, kami ke surau dulu, sekalian untuk membersihkan diri, sekitar pukul 19:00 Wib mereka sampai kesurau, malam kali ini, kami istirahat di surau Ongku Jalalin.

aku bersama saudara di surau ongku Jalalin

 Setelah selesai bersilaturrahmi di surau Ongku Jalalin, kami menuju ke makam syekh Burhanuddin sambil sarapan pagi.

lagi makan kepala ikan di tepi pantai dekat makam syekh Burhanuddin

Mamaku dengan Adeknya(tanteku), dekat makam syekh Burhanuddin

Aku bersama Saudaraku di dekat Makam Burhanuddin.

Berziarah telah selesai, kami mau mengunjungi surau pondok, tempat pakaian syekh burhanuddin pemberian dari gurunya sebagai ijazah, pakaian tersebut telah berumur sekitar 300 tahun, dan masih ada sampai sekarang ( keajaiban Allah ) kembali terungkap. sayang potonya tidak ada, karena waktu itu bateray hp saya udah lemoooooot. selesai dari surau pondok kami bersiap-siap untuk pulang ke kampung karena besok sore aku udah mau berangkat ke medan untuk kuliah, tapi keluarga yang lain tetap meneruskan perjalanannya ke Bukik Tinggi, masih ada guru yang akan di kunjungi, kami berpisah sama mereka di lembah anai. sekitar pukul 00:25 Wib, kami sampai dengan selamat di muara lembu, besok sorenya pukul 16:00 Wib aku udah gerak menuju medan menggunakan bus makmur. Itulah lebih kurang acara liburan tahun baruku bersama keluarga, seumur-umur inilah acara tahun baru yang menyenagkan, mudah-mudahan terulang kembali kegembiraanya, Amiiin.




Selasa, 03 Januari 2012

[Kisah Menyentuh Hati] Sepatu Baru


Menjadi “sama dan serupa” dengan remaja lain merupakan keinginan dari semua remaja.
Saya ingat benar bagaimana sebagai seorang remaja dalam tahun 1963 saya merasa harus
memiliki sepasang sepatu sport mutakhir yang sedang “in”. Persoalannya, bulan lalu saya
baru saja membeli sepasang sepatu kulit.

Tapi, sepatu sport benar benar sedang mode, oleh sebab itu saya datang kepada ayah
minta bantuannya. “Saya perlu sedikit uang untuk sepatu sport”, ujar saya suatu petang di
bengkel di mana ayah saya bekerja sebagai montir. “Willie” ayah kelihatannya terkejut.
“Sepatumu baru berumur satu bulan, tapi Mengapa kini kau perlukan sepatu baru?”
“Setiap orang memakai sepatu sport yah!” “Sangat boleh jadi nak, Namun hal tersebut
tidak menjadikan ayah mudah membayar sepatu sport “Gaji ayah kecil dan sering tidak
cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari hari. “Ayah, saya tampak seperti bloon
memakai sepatu jenis ini “kataku sambil menunjuk kepada sepasang sepatu oxford baru.
Ayah memandang dalam dalam ke mataku. Kemudian ia menjawab, “Begini saja, Kau
pakai sepatu ini satu hari lagi.Besok, di sekolah, perhatikan semua sepatu dari kawan-
kawanmu. Bila seusai sekolah kau masih berkeyakinan bahwa sepatumu paling butut
dibandingkan sepatu kawan kawanmu, ayah akan memotong uang belanja ibumu dan
membelikanmu sepasang sepatu sports”

Dengan gembira saya pergi ke sekolah, keesokan paginya, penuh keyakinan bahwa hari
itu merupakan hari terakhir bagiku mamakai sepatu oxford yang ketinggalan jaman ini.
Saya lakukan apa yang ayah perintahkan saya lakukan, namun tidak, saya ceritakan apa
yang saya lihat secara teliti.

Sepatu coklat, sepatu hitam, sepatu tennis yang sudah kusam, semua menjadi pusat
perhatianku. Pada petang hari, saya memiliki perbendaharaan dalam ingatanku betapa
banyaknya teman teman di sekolah yang juga memakai sepatu bukan sport, bahkan
sepatu - sepatu rusak, berlobang, menganga dan lain lain bentuk yang sudah mendekati
kepunahan sebagai alat pelindung kaki.

Namun banyak juga yang memakai sepatu sport yang gagah, yang senantiasa berdetak
detik penuh gaya bila si pemiliknya menghentakkannya dengan gagah perkasa.

Setelah sekolah usai, saya berjalan cepat ke bengkel di mana ayah bekerja. Saya hampir
yakin bahwa Senin depan saya juga akan masuk kelompok yang sedang “in” Setiap saya
menghentakkan tumit saya di jalan, saya membayangkan telah memakai sepatu sport
idaman saya. Bengkel sepi sekali saat itu. Suara yang terdengar hanya denting-denting
metal dari kolong sebuah chevy tua buatan tahun 1956. Udara berbau oli, namun pada
hemat penciuman saya, asyik sekali. Hanya seorang langganan sedang menunggu ayah
yang sedang bergulat di kolong chevy tua itu. “Pak Alva” tanya saya kepada langganan
yang sedang menunggu, “masih lamakah?” “Entah Will. Kau tahu sifat ayahmu. Ia
sedang membongkar persneling, namun bila ia mendapatkan adanya bagian lain yang
tidak beres, ia akan menyelesaikannya juga.”

Saya bersandar pada mobil abu abu itu. Apa yang bisa saya lihat hanyalah sepasang kaki
ayah yang menjulur keluar dari kolong mobil. Sambil menjentik jentik lampu belakang
chevy, secara tidak sadar saya menatap kepada kaki ayah. Celana kerjanya berwarna biru

tua, kusam dan lengket terkena oli, lusuh pula. Sepatunya, berwarna putih tua…. ah
….bukan hitam muda……, dan sungguh sungguh butut, sebagaimana mestinya sepatu
seorang montir.

Sepatu kirinya sudah tidak bersol, dan bagian kanan masih memiliki sepotong kecil kulit
tipis, yang dahulu bernama sol. Di ujungnya, sebaris staples menggigit kedua belah kulit
kencang kencang, mencegah jempol kakinya mengintip keluar. Tali sepatunya beriap
riap, dan sebuah lubang memperlihatkan sebagian dari jari kelingkingnya yang terbalut
kaus katun. “Sudah pulang nak? “ayah keluar dari kolong mobil. “Yes sir” kataku. „Kau
lakukan apa yang kuperintahkan hari ini?” “Yes sir” “Nah, apa jawabmu ?” la
memandangku, seolah olah tahu apa yang akan saya ucapkan. “Saya tetap ingin sepatu
sport “Saya berkata tegas, dan berusaha setengah mati untuk tidak memandang kepada
sepatu ayah. “Kalau begitu, ayah harus potong uang belanja ibumu….. “Mengapa tidak
pergi dan membelinya sekarang?” lalu ayah mengeluarkan selembar $ 10. dan
memancing uang receh untuk mencari 30 sen guna membayar 3% pajak penjualannya.
Saya menerima uang itu dan segera berangkat ke pusat pertokoan, dua blok dari bengkel
di mana ayah bekerja.

Di depan sebuah etalase, saya berhenti untuk melihat apakah sepatu sportku masih
dipajang disana. Ternyata masih! $9.95. Namun uang saya tidak akan cukup bila saya
harus membeli paku paku yang akan dipakukan pada solnya dan menimbulkan suara klak
klik yang gagah.

Saya pikir, untuk lari ke rumah dan minta bantuan dana dari mama, sebab tidak mungkin
kembali kepada ayah dan minta kekurangannya.

Pada saat saya teringat kepada ayah, sepatu tuanya tampak membayang melintasi kedua
mataku. Jelas tampak kebututannya, sisinya yang compang camping, paku paku yang
telah mengintip keluar dan sebaris staples yang umumnya dipakai untuk menjepit kertas.
Sepatu kulit usang yang dipakainya untuk menghidupi keluarganya. Pada waktu musim
dingin yang menggigit, sepatu yang sama dipakainya melintasi jalan jalan yang dingin,
menuju kepada mobil mobil yang mogok. Namun ayah tidak pernah mengeluh. Terpikir
olehku, betapa banyaknya benda benda yang seharusnya dibutuhkan ayah, namun tidak
dimilikinya, semata mata agar saya mendapatkan apa yang saya ingini. Dan
kementerengan sepatu sport yang ada di balik kaca etelase di hadapanku mulai memudar.

Apa jadinya bila ayah bersikap sepertiku. Sepatu jenis apa yang saat ini kupakai, bila
ayahku bersikap seperti saya bersikap. Saya masuk ke dalam toko sepatu itu. Sebuah rak
besar terpampang megah, penuh berisikan sepatu sport yang sungguh keren. Di
sampingnya, terdapat sebuah rak lain, dengan sebingkai tulisan “obral besar. 50%
discount”. Dibawah bingkai itu tergeletak sepatu sepatu semodel sepatu ayah, beberapa
generasi lebih muda, tentunya.

Otakku bermain ping pong. Mula mula sepatu ayah yang butut. Dan sekarang sepatu
baru. Pikiran tentang: menjadi “in” dan seirama dengan remaja lain di sekolah. Dan
kemudian pikiran tentang ayah,…. telah mengalahkannya.

Saya mengambil sepatu ukuran 42 dari rak yang berdiscount. Dengan segera berjalan ke
arah meja kasir, ditambah pajak, jadilah
bilangan $ 6.13.

Saya kembali ke bengkel dan meletakkan sepatu baru ayah di atas kursi di mobilnya.
Saya mendapatkan ayah dan mengembalikan uang kembalian yang masih tersisa. “Saya
pikir harganya $ 9.95 kata ayah. “Obral” kataku pendek. Saya mengambil sapu, dan
mulai membantu ayah membersihkan bengkel. Pukul lima sore, ia memberi tanda bahwa
bengkel harus ditutup dan kami harus pulang.

Ayah mengangkat kotak sepatu ketika kami masuk ke dalam mobilnya. Ketika ia
membuka kotak itu, ia hanya dapat memandang tanpa mengucapkan sepatah katapun. Ia
memandang kepada sepatu itu lama-lama, kemudian kepadaku. “Saya pikir kau membeli
sepatu sport”, katanya pelan.

“Sebetulnya ayah, … tapi …. Saya tak sanggup meneruskannya. Bagaimana saya harus
menjelaskannya bahwa saya sungguh ingin menjadi seperti ayah? Dan bila saya tumbuh
menjadi dewasa, saya sungguh ingin menjadi seperti orang baik ini, yang Tuhan berikan
kepada saya sebagai ayah saya.

Ayah meletakkan tangannya pada bahu saya, dan kami saling memandang untuk waktu
sesaat. Tidak ada kata kata yang perlu dikatakan. Ayah menstarter mobil, dan kami
pulang.

Terima kasih Tuhan, karena engkau telah memberiku seorang ayah yang baik dan
bertanggung jawab

Sumber  : www.hariansobek.com

Referensi Lainnya : http://kembanganggrek2.blogspot.com/

Minggu, 01 Januari 2012

i want stay on in the moment :-)

Alhamdulillah,,, mungkin itu kata yang pantas aku ucapkan pagi ini. pagi yang begitu cerah, tidak hujan, tidak mendung and,,, i want stay on in the moment, yeah,,,
pagi sebelum shubuh, menyentap sahur dalam kebahagian hati diatas 100%, sungguh nikmat walau hanya ditemani roti yang bermereek crispy, walau terasa asin, tapi sungguh nikmat di suasana  hati yang jarang didapatkan kayak gini.
sungguh aku begitu nikmati penderitaan ini, dan aku ingin selalu stay on di suasana kek gini. bila hati puas, semua badan, langkah kaki, takkan tearsa lelah da so pasti,, jauh dari rasa mengeluh, sungguh ini penderitaan yang nikmat yang aku alami (rupanya ada juga penderitaan yang nikmat, hehe). "maka nikmat tuhan kamu, yang mana lagi yang kamu dustakan?" sungguh firman yang membuka mata lebar, pikiran melayang mengingat nikamat yang ada, sungguh nikamat begitu indah belum ada nikamat yang menjerumuskan (emang ada  ya nimat yang menjerumuskan??), sungguh aku menjadi malu, bila selalu mengeluh atas nikmat yang pernah aku alami (aku terima kali).
 " jangan remehkan diri anda, ketahuilah,,, masih banyak orang diluar sana merindukan atau ingin seperti anda", yeah,,, begitu beruntungnya aku. masih bisa menikmati teh, saat hasrat ingin merasakan, masih bisa tidur dengan nyenyak saat mata tak mampu menopang kelopak  yang melambai indah, masih bisa mandi dengan air yang mengalir dari PAM tirtanadi (asal air mandi awak), dan,,, yeah, hampir semua kenginan bisa aku penuhi,,,
"Didalam hati manusia ada segumpal darah, apabila baik, maka akan baik semuanya, sebaliknya,,,, apakah itu?, o jelas,, itulah hati, letak kebahagian yang sebenarnya, bukan mobil sport yang canggih letak kebahagian, mahal, nyentrik, dan tidak banya yang bisa miliki,,, NEHI!!!!
ya, itu hati, segumpal darah yang ada di dalam tubuh kita, yang tak bisa dijual beli, yang tak bisa di hargai dengan mobil mazda2 yang begitu ngetren,,, o tidak bisa, dia hanya bisa didapatkan bila kesungguhan ingin mendekatkan pada sang khalik,,,
 mari kita olahragakan anggota rohani kita, seperti idola kita semua, yang menjadi tauladan kita semua "aku diutus kedunia untuk menyempurnakan akhlak) sungguh tugas yang mulia, siapa lagi kalau bukan nabi Muhammad SAW kekasih Allah SWT, yang dijamin masuk surganya Allah yang tidak bisa digambarkan nikmatnya,,,, eh,,, jangan salah, walau di jamin masuk syurga, tapi penyembahannya, pengabdiannya belum bisa ada yang ,mengalahkannya,,,,, bagaimana dengan kita yang jauh dari asuransi (jaminan), tidak ada kata lain, kalau tidak bisa lebih hendaknya sama pengabdiannya kayak nabi Muhammad SAW (walaupun penulis masih jauh dari itu) tapi kita harus tetap berusaha.
fastabiqulkhairat,,,, mari kawan kita tingkatkan lagi pengabdian dan seringlah olahragakan hati dengan selalu mengingat kebesaran dan nikmat yang telah Allah berikan pada kita,,,,

kalo ada kata yang salah dan tidak sesuai dengan pikiran dan logika saudara, tolong di maafin ya,,, kesalahan terjadi karena kurangnya ilmu yang penulis miliki, dan kebenaran tentu datangnya dari Allah SWT,,,,